![]() |
| Mengenal Pangsi, Busana Tradisional Sunda yang Sarat Makna Budaya (instagram/diazhollic) |
Di tengah pesatnya perkembangan wisata budaya di Jawa Barat, pakaian adat Sunda masih menjadi daya tarik yang memikat perhatian wisatawan. Salah satu busana tradisional yang hingga kini tetap eksis adalah pangsi, pakaian khas masyarakat Sunda yang identik dengan warna hitam dan desain sederhana. Tidak hanya dipakai dalam pertunjukan seni maupun acara adat, pangsi kini juga sering ditemui di destinasi wisata budaya dan festival tradisional di berbagai daerah Jawa Barat.
Bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan budaya Sunda seperti Bandung, Garut, hingga Tasikmalaya, pakaian pangsi menjadi simbol kuat identitas masyarakat lokal. Bentuknya sederhana, terdiri dari atasan longgar bernama salontreng dan celana komprang yang nyaman digunakan untuk beraktivitas sehari-hari. Dahulu, pangsi banyak dikenakan kalangan petani dan pekerja tradisional Sunda karena praktis serta fleksibel digunakan di berbagai kondisi.
Namun, di balik tampilannya yang sederhana, pangsi menyimpan filosofi mendalam tentang kehidupan masyarakat Sunda. Kata “pangsi” sendiri berasal dari istilah “pangeusi numpang ka sisi”, yang menggambarkan cara pemakaian kain yang dililitkan pada tubuh. Filosofi tersebut mencerminkan kesederhanaan sekaligus keharmonisan hidup masyarakat Sunda sejak zaman dahulu.
Dalam budaya Sunda, pangsi memiliki tiga makna utama, yakni tangtung, nangtung, dan samping. Tangtung menggambarkan keteguhan prinsip hidup, sedangkan nangtung bermakna memiliki pendirian kuat dan tidak mudah terpengaruh. Adapun samping mengajarkan sikap rendah hati kepada sesama. Nilai-nilai inilah yang membuat pangsi bukan sekadar pakaian tradisional, melainkan bagian dari filosofi hidup masyarakat Sunda.
Keunikan lain terlihat pada detail desainnya. Jumlah kancing pada baju pangsi biasanya terdiri dari lima atau enam buah yang melambangkan rukun Islam dan rukun iman. Selain itu, terdapat bagian jahitan khusus bernama beungkeut yang mengandung pesan tentang pentingnya kebersamaan, gotong royong, dan saling menghargai antar sesama manusia.
Kini, pangsi tidak hanya hadir dalam kegiatan adat, tetapi juga menjadi bagian dari atraksi wisata budaya Jawa Barat. Banyak wisatawan tertarik mengenakan pakaian ini saat mengunjungi kampung adat, menghadiri pertunjukan pencak silat, atau mengikuti festival budaya Sunda. Kehadiran pangsi menjadi bukti bahwa warisan budaya lokal tetap mampu bertahan di tengah modernisasi sekaligus menjadi daya tarik wisata yang memperkuat identitas budaya Jawa Barat.

