![]() |
| Jejak Karpet Handmade Bekasi, Kerajinan Lokal yang Tembus Istana Negara (KOMPAS/RIZA FATHONI) |
Di tengah hiruk-pikuk kawasan industri di Bekasi Utara, Jawa Barat, terdapat sebuah bengkel kerajinan yang menghadirkan pemandangan berbeda. Suara mesin hand tufting berpadu dengan aktivitas para perajin yang telaten menyusun benang wol berwarna-warni di atas kanvas putih panjang. Tempat produksi milik HJ Karpet di kawasan Pondok Ungu itu bukan sekadar pabrik biasa, melainkan ruang kreatif tempat seni dan keterampilan berpadu menghasilkan karpet berkualitas premium.
Saat memasuki area produksi, pengunjung dapat melihat para perajin laki-laki dan perempuan bekerja layaknya pelukis. Dengan mesin tenun tembak di tangan, mereka mengikuti pola yang telah digambar di atas kain dasar. Ketelitian menjadi kunci utama karena setiap detail motif menentukan hasil akhir karpet. Salah satu proyek terbesar yang tengah dikerjakan adalah karpet berukuran lima meter dengan panjang lebih dari 15 meter untuk kebutuhan ballroom hotel.
Usaha ini dirintis oleh Heru Purnomo, pengusaha asal Madiun yang memulai perjalanan bisnisnya dari berdagang kecil-kecilan di pinggir jalan sejak 2005. Beragam barang pernah dijual, mulai dari sprei, daster, payung hingga kacang goreng. Namun, langkah besar diambilnya pada 2011 ketika ia membeli sebuah usaha karpet yang hampir bangkrut. Tidak hanya mengambil alih alat produksi, Heru juga mempekerjakan kembali para pekerja lama agar usaha tersebut tetap hidup.
Karpet yang diproduksi menggunakan teknik hand tufted memiliki keunikan tersendiri dibanding karpet pabrikan. Motifnya lebih detail, teksturnya terasa alami, dan desainnya bisa disesuaikan dengan permintaan pelanggan. Keunggulan inilah yang membuat produk lokal tersebut diminati berbagai kalangan, mulai dari hotel, kantor pemerintahan, masjid, hingga Istana Kepresidenan di Jakarta, Bogor, Cipanas, dan Tampaksiring.
Dalam sebulan, bengkel ini mampu memproduksi sekitar 3.000 meter persegi karpet. Menariknya, pasar terbesar justru berasal dari masjid yang mencapai sekitar 70 persen permintaan. Dengan jumlah masjid yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, kebutuhan penggantian karpet secara berkala menjadi peluang besar bagi industri lokal ini.
Meski sering dibandingkan dengan karpet khas Turki, produk buatan Bekasi ini memiliki daya tarik berbeda. Konsumen bebas memesan ukuran dan desain sesuai kebutuhan tanpa batas minimum pemesanan. Fleksibilitas tersebut membuat HJ Karpet mampu bertahan di tengah gempuran produk impor dari Turki maupun China.
Bagi wisatawan yang tertarik pada wisata industri dan ekonomi kreatif, bengkel kerajinan ini menawarkan pengalaman menarik untuk melihat langsung proses pembuatan karpet handmade berkualitas tinggi. Di balik setiap helai benang yang disusun rapi, tersimpan kisah perjuangan, kreativitas, dan semangat pelaku usaha lokal yang terus bertahan di tengah persaingan global.

