
Masjid Kuno Haji Bakri Tasikmalaya (gmaps/Niazura Maria)
TASIKMALAYA - Tak semua destinasi bersejarah di Kota Tasikmalaya berdiri megah di tepi jalan utama. Sebagian justru tersembunyi di balik gang-gang kecil, menyimpan kisah panjang yang terus hidup bersama denyut aktivitas masyarakat. Salah satunya adalah Masjid Kuno Haji Bakri, sebuah masjid berusia puluhan tahun yang hingga kini tetap menjadi tempat ibadah sekaligus ruang singgah bagi warga dan para pendatang.
Berada di kawasan Kelurahan Yudanegara, Kecamatan Cihideung, masjid ini hanya berjarak beberapa langkah dari sentra perdagangan Jalan KH. Z. Mustofa atau yang lebih dikenal sebagai HZ Mustofa. Kawasan tersebut merupakan salah satu pusat belanja paling ramai di Tasikmalaya. Di balik hiruk-pikuk toko dan lalu lalang pengunjung, Masjid Haji Bakri menghadirkan suasana yang kontras: tenang, teduh, dan penuh ketenangan.
Masjid Haji Bakri diperkirakan dibangun sekitar tahun 1934. Usianya yang telah melewati berbagai zaman menjadikannya salah satu saksi perkembangan Kota Tasikmalaya, terutama kawasan perdagangan yang kini tumbuh menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat.
Meski telah berdiri lebih dari sembilan dekade, fungsi masjid ini tidak pernah berubah. Selain menjadi tempat menunaikan salat lima waktu, Masjid Haji Bakri juga menjadi persinggahan bagi banyak orang yang beraktivitas di sekitar HZ Mustofa. Karyawan pertokoan, pedagang, hingga wisatawan yang sedang berburu oleh-oleh khas Tasikmalaya kerap memanfaatkan masjid ini untuk beribadah sebelum melanjutkan perjalanan.
Keistimewaan Masjid Haji Bakri tidak hanya terletak pada nilai sejarahnya. Suasana di dalam kompleks masjid terasa sejuk dan nyaman, membuat siapa pun betah beristirahat sejenak. Banyak pengunjung memilih duduk santai, membaca Al-Qur'an, atau sekadar melepas lelah setelah berjalan mengelilingi kawasan belanja.
Menariknya, pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) juga memberikan ruang bagi musafir atau pengunjung yang membutuhkan tempat beristirahat, terutama mereka yang kemalaman atau kelelahan setelah beraktivitas. Tentu saja, setiap pengunjung tetap diharapkan menjaga kebersihan, ketertiban, dan memanfaatkan area yang telah disediakan.
Tradisi keterbukaan ini menjadi cerminan nilai-nilai sosial yang telah lama melekat pada masjid-masjid tua di Indonesia. Masjid bukan hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga tempat berlindung, berbagi, dan mempererat hubungan antarsesama.
Bagi pecinta wisata sejarah maupun wisata religi, Masjid Kuno Haji Bakri menawarkan pengalaman yang berbeda. Pengunjung tidak hanya dapat melihat bangunan yang telah menjadi bagian dari sejarah Kota Tasikmalaya sejak era kolonial, tetapi juga merasakan atmosfer hangat yang masih terjaga hingga sekarang.
Jika Anda sedang menjelajahi kawasan HZ Mustofa untuk berburu kerajinan bordir, alas kaki, atau kuliner khas Tasikmalaya, sempatkanlah berjalan beberapa menit menuju Masjid Kuno Haji Bakri. Di tempat sederhana inilah, sejarah, spiritualitas, dan keramahan masyarakat Tasikmalaya berpadu menjadi pengalaman wisata yang otentik dan berkesan.
