
Wayang Golek Cepak Cirebon (Rangga Warsita)
CIREBON - Di balik ramainya destinasi wisata di Cirebon, tersimpan sebuah warisan budaya yang tak kalah menarik untuk diselami. Bukan berupa bangunan bersejarah ataupun kuliner legendaris, melainkan seni pertunjukan tradisional yang telah hidup selama ratusan tahun. Namanya Wayang Golek Cepak, kesenian khas Cirebon yang menjadi saksi perjalanan sejarah, budaya, sekaligus penyebaran Islam di pesisir utara Jawa Barat.
Bagi wisatawan yang ingin mengenal Cirebon lebih dalam, menyaksikan Wayang Golek Cepak adalah pengalaman yang menghadirkan sisi lain dari kekayaan budaya daerah. Sayangnya, di tengah derasnya arus hiburan modern, kesenian ini semakin jarang dipentaskan sehingga keberadaannya mulai terlupakan oleh generasi muda.
Keunikan Wayang Golek Cepak langsung terlihat dari bentuk bonekanya. Berbeda dengan wayang golek Sunda pada umumnya yang memiliki mahkota menjulang, bagian kepala Wayang Golek Cepak dibuat datar atau "cepak". Dari ciri khas inilah nama kesenian tersebut berasal. Setiap tokoh dipahat dari kayu dengan karakter yang merepresentasikan para raja, panglima, ulama, hingga tokoh-tokoh dalam cerita rakyat.
Sejarah Wayang Golek Cepak dipercaya telah berkembang sejak masa pemerintahan Sunan Gunung Jati pada abad ke-15 hingga ke-16. Kala itu, pertunjukan wayang dimanfaatkan sebagai media dakwah yang efektif untuk memperkenalkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat Cirebon. Tradisi tersebut kemudian diwariskan secara turun-temurun oleh para dalang hingga sekarang.
Salah satu kisah yang masih dipercaya masyarakat menyebutkan bahwa Pangeran Sutajaya atau Pangeran Papak menghadiahkan seperangkat Wayang Golek Cepak kepada Ki Prengut untuk digunakan sebagai sarana menyebarkan ajaran Islam. Hingga kini, unsur religius masih terasa dalam setiap pementasan yang diawali dengan pembacaan kalimat tauhid sebelum gunungan dimainkan sebagai tanda dimulainya pertunjukan.
Daya tarik lainnya terletak pada cerita yang dibawakan. Jika wayang golek Sunda identik dengan kisah Mahabharata dan Ramayana, Wayang Golek Cepak justru mengangkat cerita Panji, kisah Menak, babad Cirebon, legenda lokal, hingga perjalanan para wali. Cerita-cerita tersebut membuat pertunjukan terasa dekat dengan identitas masyarakat pesisir Cirebon sekaligus memperkaya pengalaman wisata budaya.
Saat ini, kesempatan menikmati Wayang Golek Cepak memang tidak sebanyak dahulu. Pertunjukannya umumnya hadir dalam tradisi adat seperti Ngunjung Buyut, ruwatan, syukuran, hingga berbagai ritual budaya masyarakat Cirebon dan Indramayu. Bagi wisatawan, momen-momen tersebut menjadi kesempatan langka untuk menyaksikan langsung kesenian yang sarat filosofi ini.
Melestarikan Wayang Golek Cepak bukan hanya menjaga sebuah pertunjukan tradisional, tetapi juga mempertahankan identitas budaya yang telah menjadi bagian dari sejarah Cirebon selama berabad-abad. Dengan mengenalkannya kepada generasi muda dan menjadikannya bagian dari atraksi wisata budaya, warisan leluhur ini memiliki peluang untuk kembali hidup di tengah masyarakat.
Jika berkunjung ke Cirebon, sempatkanlah mencari informasi mengenai jadwal pertunjukan Wayang Golek Cepak. Menyaksikannya secara langsung bukan sekadar menikmati hiburan, tetapi juga menjadi cara terbaik memahami jejak sejarah, nilai spiritual, dan kearifan lokal yang membentuk wajah budaya Cirebon hingga hari ini.***
