Menelusuri Makam Keramat Mede, Jejak Ulama dan Perjuangan di Tengah Industri Cikarang

Jabar Tourism
0

Makam Keramat Mede Bekasi (realrimenews.id)

KABUPATEN BEKASI
- Selama ini kawasan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, identik dengan kawasan industri yang dipenuhi pabrik, kendaraan logistik, dan aktivitas ekonomi yang nyaris tak pernah berhenti. Namun, di balik geliat modernisasi tersebut, tersimpan sebuah situs bersejarah yang menawarkan suasana berbeda: Makam Keramat Mede di Kampung Rawa Banteng, Desa Mekarwangi.


Kompleks makam yang berada di tengah kawasan industri MM2100 itu bukan sekadar tempat ziarah. Situs ini menyimpan cerita tentang perkembangan Islam sekaligus jejak perjuangan masyarakat pada masa kolonial.


Jejak Mbah Guru dari Banten

Tokoh yang menjadi pusat penghormatan di Makam Keramat Mede adalah Mbah Raden Marfu, atau Tubagus Marfu' al-Bantani bin Tubagus Yusuf. Masyarakat setempat mengenalnya dengan sebutan Mbah Guru.


Dalam cerita dan catatan sejarah lokal, Mbah Raden Marfu dikenal sebagai ulama keturunan Banten yang berdakwah di wilayah Bekasi dan sekitarnya sejak sekitar abad ke-18 hingga wafat pada kisaran 1800 Masehi. Ia juga dikenang sebagai sosok yang turut melakukan perlawanan terhadap penindasan kolonial.


Kompleks makam seluas sekitar 6.400 meter persegi tersebut juga menjadi tempat peristirahatan sejumlah anggota keluarganya, di antaranya Mbah Raden Siti Aisyah dan Mbah Raden Andun. Keberadaan makam keluarga ini memperlihatkan bahwa kawasan tersebut memiliki peran penting dalam perjalanan dakwah dan kehidupan masyarakat pada masa lalu.


Ketika Sejarah Berhadapan dengan Modernitas

Hal yang membuat Makam Keramat Mede terasa istimewa adalah lokasinya. Situs yang menyimpan kisah masa lampau itu kini berdiri di tengah kawasan industri modern.


Kontras tersebut begitu terasa. Suara kendaraan dan aktivitas industri perlahan berganti dengan suasana tenang ketika memasuki area makam. Lingkungan situs juga masih dipelihara oleh ahli waris dan masyarakat setempat sehingga nuansa tradisionalnya tetap terasa.


Perhatian terhadap kelestarian Makam Keramat Mede pun mulai meningkat. Situs ini telah didaftarkan oleh Tim Pendaftar Cagar Budaya Kabupaten Bekasi bersama Disbudpora sebagai Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB).


Sejumlah benda peninggalan Mbah Raden Marfu yang masih dijaga ahli waris menjadi bagian penting dalam upaya penelitian dan pelestarian situs. Dukungan pemerintah daerah dan DPRD Kabupaten Bekasi juga diperlukan agar keberadaan kompleks makam tetap terlindungi di tengah perkembangan kawasan industri.


Kini, pengelolaan situs berada di bawah Yayasan Tajug Al-Hidayah Mekarwangi. Fasilitas bagi peziarah terus dibenahi tanpa menghilangkan karakter asli makam.


Bagi pengunjung, ziarah ke Makam Keramat Mede bukan hanya perjalanan religi. Tempat ini juga menjadi ruang untuk melihat bagaimana warisan dakwah, sejarah lokal, dan semangat perjuangan tetap bertahan di tengah derasnya modernisasi Cikarang Barat.***

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)