
Bekasem Cirebon, Kuliner Sakral Keraton yang Penuh Cerita (https://kiprahagroforestri.id)
CIREBON - Kalau berkunjung ke Cirebon, jangan buru-buru menganggap perjalanan wisata selesai setelah mencicipi empal gentong atau nasi jamblang. Kota di pesisir utara Jawa Barat ini punya sisi lain yang jauh lebih dalam: tradisi kuliner yang tidak sekadar bicara soal rasa, tetapi juga menyimpan jejak sejarah dan ritual yang diwariskan selama ratusan tahun.
Salah satunya adalah bekasem Cirebon atau pekasam, olahan ikan fermentasi yang masih dipertahankan di lingkungan Keraton Kasepuhan. Bagi wisatawan yang tertarik dengan wisata budaya, tradisi ini menawarkan pengalaman berbeda untuk mengenal Cirebon dari sisi yang jarang terlihat.
Bekasem dan Jejak Tradisi Keraton
Bekasem merupakan olahan ikan yang dibuat melalui proses fermentasi. Tradisi pembuatannya erat dengan kehidupan budaya Keraton Kasepuhan dan biasanya dilakukan menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Proses tersebut menjadi bagian dari rangkaian tradisi keraton yang dikenal dengan Panjang Jimat. Karena memiliki nilai budaya dan spiritual, pembuatan bekasem tidak dilakukan seperti memasak makanan sehari-hari.
Ada tata cara, kebersihan, serta aturan adat yang harus diperhatikan. Rangkaian proses juga diawali dengan doa bersama atau tawasulan sebagai bentuk permohonan keberkahan dan keselamatan.
Fermentasi dalam Guci Pusaka
Salah satu bagian paling menarik dari tradisi bekasem adalah wadah yang digunakan. Ikan pilihan, seperti marlin atau ikan laut lainnya, terlebih dahulu diberi campuran garam, gula merah, dan nasi matang.
Setelah dibumbui, ikan kemudian ditempatkan di dalam guci pusaka berusia ratusan tahun. Guci tersebut disimpan di bangsal khusus keraton dan menjadi bagian penting dalam proses fermentasi.
Selama kurang lebih satu bulan, ikan dibiarkan mengalami fermentasi alami. Proses panjang inilah yang kemudian menghasilkan karakter khas bekasem.
Setelah matang melalui proses fermentasi, ikan dikeluarkan dari guci, dicuci hingga bersih, kemudian dijemur. Selanjutnya, bekasem diolah kembali sebelum disajikan sebagai bagian dari hidangan tradisional keraton.
Menyusuri Cirebon Lewat Kuliner Tradisional
Bagi wisatawan, bekasem memberikan perspektif menarik bahwa kuliner bisa menjadi pintu masuk untuk memahami sejarah suatu daerah. Di balik ikan fermentasi tersebut terdapat pengetahuan leluhur tentang pengawetan makanan, kehidupan masyarakat pesisir, hingga perjalanan tradisi Islam di Cirebon.
Bekasem juga menjadi salah satu bagian penting dalam sajian pada malam puncak Panjang Jimat. Karena itu, keberadaannya tidak bisa dilepaskan dari identitas budaya Keraton Kasepuhan.
Mengunjungi Cirebon akhirnya bukan cuma tentang mencari tempat wisata atau berburu kuliner populer. Ada cerita-cerita lama yang tersimpan dalam tradisi masyarakat, dan bekasem adalah salah satunya.
Bagi pencinta wisata budaya Cirebon, tradisi ini menjadi pengingat bahwa perjalanan paling menarik terkadang bukan tentang apa yang terlihat megah, melainkan tentang kisah sederhana yang diam-diam berhasil bertahan selama ratusan tahun.***
