Situ Kabuyutan Kuningan, Pesona Telaga Alami yang Sarat Legenda

Jabar Tourism
0

Situ Kabuyutan Kuningan (gmaps/Firman)

KUNINGAN
- Jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, menyimpan sejumlah destinasi alam yang masih terasa asri. Salah satunya adalah Situ Kabuyutan yang berada di Desa Legokherang, Kecamatan Cilebak. Berada di kawasan kaki Gunung Subang, telaga ini menawarkan suasana sejuk sekaligus cerita-cerita tradisional yang masih hidup di tengah masyarakat.


Situ Kabuyutan terbentuk secara alami. Dari sebuah kubangan kecil, genangan air tersebut berkembang menjadi telaga yang lebih luas dan dalam. Dalam perkembangannya, kawasan situ kemudian dilengkapi tanggul serta pintu air yang dimanfaatkan untuk membantu kebutuhan pengairan lahan pertanian dan permukiman warga.


Pemandangan di sekitar telaga menjadi daya tarik tersendiri. Situ dikelilingi perkebunan, pepohonan rindang, serta sejumlah pohon berusia tua yang membuat suasananya terasa teduh. Ekosistem di kawasan ini juga cukup beragam. Perairannya menjadi habitat ikan mujair, ikan mas, ikan gabus, udang rawa, hingga berbagai jenis kerang air tawar. Sementara kawasan hutan di sekitarnya menjadi habitat surili dan sejumlah burung seperti kutilang serta pipit.


Namun, Situ Kabuyutan bukan sekadar menawarkan panorama alam. Masyarakat setempat juga mewariskan sejumlah kisah yang membuat tempat ini memiliki nuansa mistis. Salah satu cerita yang cukup dikenal adalah keberadaan ikan mas berukuran sangat besar yang dipercaya sebagai penghuni telaga.


Menurut legenda yang berkembang, ikan tersebut dapat muncul pada waktu-waktu tertentu yang dianggap sakral. Konon, ketika momen tersebut bertepatan dengan suara azan atau bedug Dzuhur, ikan-ikan di situ akan bergerak ke permukaan dan berkumpul. Cerita ini menjadi bagian dari folklor masyarakat sekitar dan diwariskan dari generasi ke generasi.


Di sekitar Situ Kabuyutan juga pernah terdapat batu yang dikenal sebagai batu pamangkuan. Benda tersebut dipercaya memiliki fungsi tradisional untuk menjawab pertanyaan melalui perubahan berat batu ketika diangkat. Sayangnya, batu yang dianggap bersejarah itu kini sudah tidak berada di tempatnya karena ulah manusia.


Tak jauh dari lokasi tersebut terdapat pula sumur batu yang dikeramatkan warga. Bentuknya menyerupai lumpang batu dan dipercaya tetap menyimpan air meski musim kemarau panjang. Sebagian masyarakat meyakini airnya mempunyai khasiat tertentu, termasuk dalam ritual tradisional yang dilakukan dengan bantuan juru kunci.


Meski mempunyai potensi wisata alam dan budaya yang menarik, akses menuju Situ Kabuyutan pada saat sumber tersebut ditulis masih cukup terbatas dan belum dikelola secara khusus sebagai destinasi wisata. Pengunjung juga tidak dikenakan tiket masuk.


Situ Kabuyutan menunjukkan bahwa kekayaan wisata Kuningan tidak selalu hadir dalam bentuk destinasi populer. Alam yang masih hijau, kehidupan masyarakat, serta legenda yang melekat di dalamnya justru menjadi daya tarik tersendiri. Jika kelak dikembangkan secara bijak tanpa menghilangkan karakter alaminya, telaga ini berpotensi menjadi salah satu tujuan wisata berbasis alam dan budaya di wilayah Kuningan.***

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)