
Tan Deseng sang Maestro Karawitan Sunda (pinterest)
BANDUNG — Nama Tan Deseng menjadi bagian penting dalam perjalanan panjang musik Sunda. Lahir di Bandung pada 22 Agustus 1942, seniman keturunan Tionghoa tersebut tumbuh di tengah lingkungan masyarakat Sunda yang membuat kecintaannya terhadap karawitan berkembang sejak usia dini.
Tan Deseng meninggal dunia pada 6 November 2022 dalam usia 80 tahun. Kepergiannya meninggalkan jejak panjang yang tidak sekadar berupa karya musik, tetapi juga rekaman, pengajaran, dan upaya menjaga kesenian Sunda agar tetap dikenal lintas generasi.
Ketertarikannya terhadap musik tradisional muncul dari lingkungan tempat ia tumbuh. Sejak kecil, Deseng akrab dengan suara kecapi, suling, rebab, kendang penca, degung, hingga siaran musik Sunda melalui radio. Ketertarikan itu kemudian membawanya berguru kepada sejumlah seniman dan memperdalam berbagai bentuk kesenian Sunda.
Pada masa mudanya, kemampuan musikal Deseng berkembang pesat. Ia tidak hanya mempelajari karawitan, tetapi juga memahami berbagai instrumen dan warna musik. Penguasaannya terhadap musik tradisional kemudian menjadi ciri khas ketika ia memasuki dunia rekaman dan musik populer Sunda.
Salah satu sumbangan terbesarnya berada pada ranah aransemen. Penelitian mengenai perkembangan pop Sunda mencatat bahwa Deseng menghadirkan unsur khas Sunda melalui penggunaan instrumen seperti suling dan rebab, sistem laras tradisional, struktur musikal Sunda, serta gaya permainan gitar yang menjadi cirinya. Pendekatan tersebut membuat aransemen Deseng berbeda dari pola musik pop yang lebih banyak menggunakan harmoni dan tangga nada Barat.
Deseng juga berperan dalam memperkenalkan sejumlah pesinden ke dalam dunia pop Sunda. Nama-nama seperti Upit Sarimanah, Titim Fatimah, dan Euis Komariah tercatat pernah mendapatkan ruang melalui kiprah musikalnya. Ia bahkan mendorong para seniman tradisional masuk ke studio rekaman agar karya-karya mereka dapat terdokumentasikan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kiprahnya di dunia rekaman berlangsung selama puluhan tahun. Deseng dikenal menyimpan berbagai master rekaman dan dokumentasi kesenian Sunda yang bernilai penting. Sejumlah seniman menyebutnya sebagai salah satu tokoh yang memiliki peran besar dalam sejarah rekaman musik Sunda di Bandung.
Ia juga pernah menggarap aransemen musik untuk sejumlah film, termasuk karya-karya yang berkaitan dengan kesenian Sunda. Pengalamannya semakin memperlihatkan kemampuannya menjembatani musik tradisional dengan kebutuhan seni pertunjukan dan industri hiburan.
Bagi Deseng, melestarikan musik Sunda bukan berarti membekukannya dalam bentuk lama. Dalam program Belajar Bersama Maestro pada 2015, ia mengajarkan musik kepada generasi muda sekaligus mendorong mereka memahami kekayaan musik tradisional Indonesia. Ia juga memperkenalkan lagu buhun seperti Layar Putri dan mengajak peserta mengembangkan musik lama agar dapat diterima generasi baru.
Di antara karya yang dikenalkan dalam proses pembelajaran itu adalah Aki-Aki, ciptaannya yang kemudian dimainkan bersama anak cucu dan peserta program. Bagi Deseng, proses belajar musik bukan hubungan satu arah. Maestro dan generasi muda sama-sama dapat bertukar pengalaman.
Warisan Tan Deseng akhirnya bukan hanya tentang lagu atau aransemen. Ia meninggalkan cara pandang bahwa musik Sunda dapat terus berkembang tanpa kehilangan akar tradisinya. Dari panggung, studio rekaman, hingga ruang belajar, Deseng mengabdikan hidupnya untuk memastikan suara karawitan Sunda tetap memiliki tempat di tengah perubahan zaman.
Kini, ketika sang maestro telah tiada, karya dan dokumentasi yang ditinggalkannya menjadi bagian dari ingatan penting perjalanan musik Sunda. Nada-nada yang pernah ia rawat menjadi pengingat bahwa sebuah tradisi dapat bertahan bukan hanya karena dimainkan, tetapi karena terus dipelajari, direkam, dan diwariskan.***
