
Desainer muda asal Bekasi Akeyla Naraya Alyandina (facebook/Chacha Hits)
BEKASI– Dunia pariwisata tidak hanya berbicara tentang panorama alam dan destinasi, tetapi juga tentang budaya yang menjadi identitas sebuah daerah. Salah satu sosok yang menarik perhatian adalah Akeyla Naraya Alyandina, desainer muda asal Bekasi yang menjadikan batik sebagai medium untuk memperkenalkan budaya Indonesia ke dunia.
Akeyla mulai menunjukkan ketertarikan pada dunia desain sejak usia dini. Kegemarannya menggambar berkembang menjadi kemampuan merancang busana. Dengan dukungan keluarga dan proses belajar desain, ia kemudian menghasilkan karya yang mengangkat kekayaan motif batik Indonesia.
Perjalanan Akeyla di dunia fashion terbilang istimewa. Saat masih berusia sekitar tujuh tahun, ia sudah tampil dalam peragaan busana di Moskwa, Rusia, pada 2017. Setahun kemudian, karyanya dibawa ke Beirut, Lebanon. Ia juga tercatat pernah memperkenalkan rancangan bernuansa batik dalam berbagai ajang di Indonesia maupun mancanegara, termasuk Rusia dan Kirgistan.
Menariknya, Akeyla tidak sekadar melihat batik sebagai bahan pakaian. Baginya, batik merupakan bagian dari identitas dan warisan budaya Indonesia. Karena itu, aktivitasnya juga berkaitan dengan pemberdayaan perajin. Ia pernah berkolaborasi dengan pembatik penyandang disabilitas serta mendorong penggunaan pewarna alami dalam proses pembuatan batik.
Dari perspektif wisata budaya, kiprah Akeyla menjadi contoh bagaimana kreativitas generasi muda dapat memperluas daya tarik sebuah destinasi. Gagasan yang pernah ia kembangkan bahkan mencakup Kampung Batik Karawang, yang dirancang bukan hanya sebagai sentra kerajinan, tetapi juga ruang wisata edukasi. Pengunjung nantinya dapat melihat proses membatik, membeli produk lokal, hingga mencoba membuat karya sendiri. Konsep tersebut juga diarahkan untuk membuka ruang bagi seniman dan masyarakat sekitar.
Hingga kini, jejak Akeyla menunjukkan bahwa batik memiliki potensi besar sebagai bagian dari pengalaman wisata kreatif. Ketika fashion, sejarah, kerajinan, dan pemberdayaan masyarakat dipadukan, sebuah karya tidak lagi sekadar menjadi produk, tetapi dapat berubah menjadi cerita yang menghidupkan destinasi.
Bagi wisatawan yang ingin mengenal Indonesia melalui budaya, kisah Akeyla menjadi pengingat bahwa perjalanan tidak selalu harus dimulai dari tempat yang jauh. Dari motif batik dan kreativitas anak muda, identitas lokal pun dapat melangkah hingga panggung internasional.***
