![]() |
| Salah satu warga sedang membuat ketupat untuk lebaran di Blok Ketupat Bandung (Reza Deny/HR) |
Menjelang Hari Raya Idulfitri, suasana di sudut Kota Bandung berubah menjadi lebih semarak dari biasanya. Bukan karena dekorasi lampu atau pusat perbelanjaan, melainkan aktivitas tradisional yang masih bertahan hingga kini. Di kawasan Babakan Ciparay, terdapat sebuah kampung yang dikenal dengan sebutan “Blok Kupat”, tempat di mana budaya menganyam kulit ketupat tetap hidup lintas generasi.
Blok Kupat bukan sekadar kawasan produksi, melainkan destinasi wisata budaya yang menyuguhkan pengalaman unik. Di sini, pengunjung bisa melihat langsung proses pembuatan ketupat dari janur—daun kelapa muda—yang dianyam dengan cekatan oleh tangan-tangan terampil warga setempat.
Tradisi yang Tak Lekang oleh Zaman
Blok Kupat terletak di Kelurahan Babakan, Kecamatan Babakan Ciparay, tidak jauh dari Pasar Induk Caringin. Kawasan ini telah lama dikenal sebagai sentra produksi kulit ketupat, meski asal-usulnya tidak diketahui secara pasti. Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun, bahkan sudah ada sejak sebelum generasi sekarang lahir.
Menariknya, aktivitas ini tidak selalu menjadi pekerjaan utama. Pada hari biasa, sebagian besar warga bekerja sebagai buruh pabrik atau pekerja serabutan. Namun, ketika Ramadan memasuki hari-hari terakhir, mereka beralih profesi menjadi perajin kulit ketupat musiman.
Perubahan ini menciptakan suasana khas di Blok Kupat. Gang-gang sempit dipenuhi warna hijau dan kuning dari janur yang dianyam, sementara suara gesekan daun kelapa menjadi latar alami yang menenangkan.
Produktivitas Tinggi dan Nilai Ekonomi
Keahlian warga Blok Kupat tidak bisa dianggap remeh. Dalam sehari, satu orang perajin mampu menghasilkan ratusan hingga ribuan kulit ketupat. Bahkan, dalam tiga hari, produksi bisa mencapai puluhan ribu unit untuk memenuhi lonjakan permintaan menjelang Lebaran.
Bahan baku janur didatangkan dari berbagai daerah di Jawa Barat seperti Tasikmalaya, Ciamis, hingga Cianjur. Produk yang dihasilkan kemudian dipasarkan ke berbagai pasar di Bandung dan sekitarnya.
Momentum Lebaran menjadi puncak rezeki bagi warga. Permintaan yang meningkat tajam membuat omzet mereka naik signifikan, sekaligus menjadi penopang ekonomi musiman yang penting.
Lebih dari Sekadar Kerajinan
Bagi masyarakat Blok Kupat, menganyam ketupat bukan hanya soal ekonomi. Ini adalah bagian dari identitas budaya yang harus dijaga. Keterampilan tersebut diajarkan dari orang tua kepada anak-anak mereka, memastikan tradisi tetap lestari di tengah perubahan zaman.
Ketupat sendiri memiliki makna simbolis dalam budaya Indonesia, terutama saat Lebaran. Makanan berbahan dasar beras yang dimasak dalam anyaman janur ini melambangkan kebersamaan, kesederhanaan, dan rasa syukur.
Potensi Wisata Budaya di Bandung
Blok Kupat Bandung memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata berbasis budaya. Pengunjung tidak hanya bisa melihat proses produksi, tetapi juga belajar langsung menganyam ketupat dari warga lokal.
Di tengah derasnya arus modernisasi, Blok Kupat menjadi bukti bahwa tradisi lokal masih bisa bertahan dan bahkan menjadi daya tarik wisata. Sebuah pengalaman sederhana, namun sarat makna—yang mengingatkan bahwa budaya adalah warisan paling berharga yang tak lekang oleh waktu.

