Tradisi Sapu Koin di Jembatan Sewo, Antara Mitos dan Wisata Unik Pantura

Jabar Tourism
0

Tradisi Sapu Koin di Jembatan Sewo Indramayu (facebook/Faqih Maryam)

Di jalur Pantura yang menghubungkan Subang dan Indramayu, terdapat sebuah spot yang kerap menyita perhatian para pemudik: Jembatan Sewo. Bukan sekadar infrastruktur penghubung, tempat ini menyimpan fenomena budaya unik yang menjadikannya daya tarik wisata tersendiri, terutama saat musim mudik Lebaran.


Saat kendaraan melintas, pemandangan tak biasa akan terlihat. Warga berjejer di sepanjang jembatan sambil membawa sapu lidi, bersiap mengumpulkan koin yang dilempar pengendara. Tradisi ini dikenal sebagai “sapu koin”, sebuah kebiasaan yang telah berlangsung turun-temurun dan menjadi bagian dari cerita khas perjalanan di Pantura.


Di balik tradisi tersebut, tersimpan kisah mistis yang dipercaya sebagian masyarakat. Konon, sungai di bawah Jembatan Sewo dihuni oleh arwah kakak beradik bernama Saedah dan Saeni. Legenda ini berkembang dari cerita masa lalu yang kemudian membentuk keyakinan bahwa melempar koin dapat membawa keselamatan selama perjalanan.


Kepercayaan ini membuat banyak pengendara secara sukarela melempar uang sebagai bentuk “saweran” atau simbol permohonan perlindungan. Di sisi lain, warga sekitar memanfaatkan momen tersebut untuk mengais rezeki, meski hasilnya tidak seberapa. Tradisi ini pun menjadi potret interaksi unik antara kepercayaan lokal dan realitas ekonomi masyarakat.


Namun, di balik daya tariknya sebagai fenomena wisata budaya, tradisi ini juga menuai perhatian karena faktor keselamatan. Aktivitas menyapu koin di tengah jalan dinilai berisiko bagi pelaku maupun pengguna jalan. Bahkan, aparat setempat kerap memberikan imbauan agar praktik ini tidak dilakukan demi menghindari kecelakaan.


Meski demikian, keberadaan tradisi sapu koin tetap bertahan dan menjadi bagian dari pengalaman mudik yang tak terlupakan. Bagi wisatawan atau pelintas, Jembatan Sewo menawarkan lebih dari sekadar perjalanan—ia menghadirkan cerita tentang mitos, budaya, dan dinamika kehidupan masyarakat lokal.


Jika Anda melintasi jalur ini, Jembatan Sewo bukan hanya tempat untuk dilewati, tetapi juga untuk dipahami—sebuah ruang di mana tradisi dan kepercayaan bertemu di tengah hiruk-pikuk perjalanan.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)