![]() |
Pantan Cigowong (sumber: google maps/Lakula Borneo) |
Majalengka, Jawa Barat, memang terkenal dengan keindahan alamnya yang memukau. Dijuluki sebagai Kota Angin, daerah ini menyimpan banyak destinasi wisata yang menawarkan pemandangan luar biasa. Namun, tak banyak yang tahu bahwa Majalengka juga memiliki situs bersejarah yang masih lestari hingga kini. Salah satunya adalah Pantan Cigowong, sebuah mata air jernih yang berada di Dusun Cigowong, Desa Ganeas, Kecamatan Talaga.
Saat mengunjungi Pantan Cigowong, mata akan langsung dimanjakan oleh kejernihan air yang memenuhi kolam berbentuk persegi. Air dari mata air ini mengalir dengan cukup deras, memberikan kesegaran alami bagi siapa saja yang datang. Namun, yang membuat tempat ini begitu istimewa bukan hanya keindahannya, melainkan juga sejarah panjang yang menyertainya.
Diketahui bahwa mata air ini merupakan peninggalan dari era kolonial Belanda. Bahkan, bangunan menyerupai kolam yang ada di lokasi ini dulunya merupakan bagian dari sistem saluran air bersih yang dibuat pada masa itu. Berdasarkan catatan sejarah, Pantan Cigowong pertama kali diresmikan oleh Bupati Majalengka saat itu, Raden Mas Arya Adipati Soeriatanudibrata, pada tanggal 2 November 1936.
Dibangun untuk Memperingati Pernikahan Kerajaan Belanda?
Menurut Nana Rohmana, Ketua Grumala (Group Madjalengka Baheula) sekaligus seorang pencinta sejarah Majalengka, pembangunan saluran air bersih atau "Watter Leiding Bedrift" di kawasan ini diresmikan pada tahun 1936. Namun, ada sumber lain yang menyebutkan bahwa proyek ini sebenarnya dibangun untuk memperingati pernikahan Ratu Wilhelmina dan Pangeran Hendrik dari Belanda.
Pernikahan kerajaan tersebut terjadi pada 7 Februari 1902, dan diyakini bahwa peletakan batu pertama Pantan Cigowong dilakukan tepat pada tanggal yang sama, namun di tahun 1936. Setelah melewati masa pembangunan, mata air ini akhirnya resmi digunakan oleh masyarakat pada 2 November 1936, dengan prioritas awal diberikan kepada para pejabat Belanda sebelum dialirkan ke penduduk setempat.
Saat masa penjajahan Jepang, fasilitas Watter Leiding Bedrift ini nyaris dihancurkan oleh tentara Jepang. Namun, upaya itu berhasil digagalkan berkat keberadaan seorang mata-mata bernama Komandan Rikugun. Menyamar sebagai pedagang sutra, ia melindungi tempat ini dari kehancuran, sehingga Pantan Cigowong tetap bertahan hingga kini.
Asal-Usul Nama "Pantan Cigowong"
![]() |
Pantan Cigowong (sumber: google maps/Agus Setiawan) |
Nama "Pantan Cigowong" sendiri memiliki makna yang unik dalam bahasa Sunda. "Pantan" berarti sumber mata air, sementara "Cigowong" berasal dari kata "gowong" yang berarti teriakan. Konon, nama ini berasal dari kisah seorang petani yang tanpa sengaja menemukan sumber mata air saat mencangkul sawahnya. Saat air memancar deras dari tanah, ia pun berteriak, dan sejak saat itu tempat ini dikenal sebagai Pantan Cigowong.
Hingga kini, Pantan Cigowong tetap menjadi sumber air yang sangat penting bagi masyarakat sekitar. Airnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi, cuci, dan kakus (MCK), serta untuk mengairi sawah. Tak hanya sebagai peninggalan bersejarah, mata air ini juga menjadi saksi bagaimana warisan kolonial tetap memberi manfaat bagi generasi setelahnya.
Dengan nilai sejarah dan keindahan alamnya, Pantan Cigowong bukan hanya tempat wisata biasa, tetapi juga destinasi yang menyimpan cerita dari masa lalu. Bagi para pencinta sejarah dan wisata alam, tempat ini adalah lokasi yang wajib dikunjungi saat berkunjung ke Majalengka!